Berita

Agar tidak lupa, 29 tahun pembantaian pertama di Al-Aqsha

Di halaman Masjid Al-Aqsha, pada siang hari Senin, 8 Oktober 1990, darah mengalir deras, di mana tidak ada suara yang lebih keras dibandingkan suara tembakan peluru, ketika pasukan pendudukan penjajah Israel melakukan salah satu pembantaian paling brutal sepanjang sejarah hitamnya.

Pembantaian ini mengakibatkan 22 jamaah shalat di Masjid Al-Aqsha gugur dan puluhan luka-luka, ketika tentara pendudukan penjajah Israel secara brutal memberondongkan tembakan peluru ke arah para jamaah masjid dan orang-orang tak berdosa di halaman Masjid Al-Aqsha.

Pembantaian yang mengerikan itu mendapakan kecaman dan kutukan secara luas. Para pengamat menyatakan bahwa pasukan penjajah Israel melanggar kesucian dan kesakralan masjid serta telah melampaui semua garis merah.

Pada hari Senin, 8 Oktober 1990, tepat sebelum sholat subuh, para pemukim yang disebut “Temple Mount Trustees” berusaha untuk meletakkan batu fondasi dari kuil ketiga yang mereka klaim ada di Masjid Al-Aqsha. Ribuan jemaah menghadang mereka. Pasukan penjajah Israel turun tangan, mereka secara brutal memberondongkan tembakan ke arah para jamaah shalat dan iktikaf di dalam masjid. Akibatnya, 22 orang gugur dan lebih dari 200 orang lainnya luka-luka, sebanyak 270 jamaah ditangkap. Pasukan penjajah Israel menghalangi akses mobil ambulan ke lokasi.

Brutal dan penuh kebencian

Bahaya semakin parah mengancam Masjid Al-Aqsha. Penjajah Israel tidak hanya berhenti dengan menduduki Masjid Al-Aqsha pada tahun 1967, dan tidak hanya berhenti dengan membakar sebagian besar Mushalla al-Kibli, tempat shalat utama di Masjid Al-Aqsha, pada tahun 1969, dan bahkan tidak hanya berhenti dengan serangan-serangan terhadap jemaah yang dilakukan para ekstremis Yahudi pada tahun 1982, tidak jenuh melakukan penggalian-penggalian dan pembuatan terowongan yang membahayakan fondasi masjid. Pada tahun 1986/87, mereka beusaha untuk menembusnya berulang kali. Organisasi-organisasi dan kelompok-kelompok ekstrimis Yahudi yang didukung oleh lembaga-lembaga resmi Israel mulai mempersiapkan dan menyusun rencana, menggambar sketsa, memprogram tahapan-tahapan, dan mengumumkan secara terang-terangan bahwa mereka mulai bersiap membangun kuil yang mereka klaim dengan mengorbankan Masjid Al-Aqsha.

Pada saat itu, ada penyerbuan-penyerbuan terbatas ke Masjid Al-Aqsha yang dilakukan para pemukim dan anggota komunitas Yahudi. Akan tetapi seruan untuk menunaikan ibadah-ibadah dan ritual-ritual Yahudi di dalam Masjid Al-Aqsha semakin bertambah dan meningkat, hingga menuntut peletakan batu fondasi untuk pembangunan kuil yang mereka klaim di dalam Masjid Al-Aqsha dan menyelenggarakan upacara untuk itu, untuk menjadi langkah pertama bagi pembangunan kuil Yahudi yang mereka kalim.

Ekstrimis Gershon Salmon dan kelompoknya bernama “Temple Mount Trustees” mengumumkan bahwa mereka akan meletakkan batu fondasi untuk kuil Yahudi yang mereka klaim. Mereka mengatur pelaksanaan upacara di dalam Masjid Al-Aqsha untuk itu. Hal ini bersamaan dengan hari raya takhta Ibrani, dan mereka mempersiapkan logistik untuk itu. Secara pinsip, pengadilan Zionis mengizinkan mereka melakukan itu. Maka mereka menetapkan waktu, sebelum jam 11 pagi pada hari Senin, 8 Oktober 1990. Suasananya luar biasa tegang. Warga al-Quds merasakan bahaya. Sebelum waktu yang ditentukan tersebut, warga al-Quds menyerukan untuk melindungi Masjid Al-Aqsha, agar para jamaah berkumpul di dalam masjid sejak shalat subuh. (was/pip)

Sumber: Melayu Palinfo

LEAVE A RESPONSE

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *